Dosen UHN Denpasar Tembus Forum TESOL Dunia, Angkat Ketimpangan Pendidikan Inggris di Wilayah 3T
Denpasar – Di tengah masih lebarnya kesenjangan mutu pendidikan di wilayah terpencil Indonesia, dosen Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Made Wahyu Mahendra, membawa persoalan tersebut ke panggung akademik internasional dalam 33rd Korea TESOL International Conference 2026 di Sookmyung Women’s University, Seoul, Korea Selatan, pada 16–17 Mei 2026.
Tak sekadar tampil sebagai pembicara, Made juga berhasil meraih hibah eksklusif yang hanya diberikan kepada dua presenter terpilih dari seluruh peserta konferensi internasional bergengsi tersebut.
Forum bertema “Criticality, Innovation, and Compassion: Rethinking Language Education in Times of Change” itu dikenal sebagai salah satu ajang paling berpengaruh di Asia dalam bidang Teaching English to Speakers of Other Languages (TESOL), yang mempertemukan peneliti, akademisi, hingga praktisi pendidikan bahasa dari berbagai negara.
Dalam presentasinya yang berjudul “Voices from the Field: Professional Development Needs of Rural Indonesian English Teachers”, Made menyoroti persoalan mendasar pendidikan bahasa Inggris di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) Indonesia.
Penelitian tersebut mengungkap masih terbatasnya akses guru terhadap pelatihan berkualitas, lemahnya dukungan infrastruktur teknologi pembelajaran, hingga tantangan profesional yang dihadapi tenaga pendidik di daerah pedesaan.
“Topik ini sangat relevan, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia, di mana kesenjangan kualitas pendidikan masih menjadi isu utama,” ujar Made dalam forum internasional tersebut, Minggu (17/5).
Penelitian itu tidak hanya memetakan persoalan, tetapi juga menawarkan pendekatan kontekstual sebagai strategi inovatif untuk meningkatkan kualitas pengembangan profesi guru bahasa Inggris di daerah terpencil.
Prestasi tersebut dinilai menjadi bukti bahwa perguruan tinggi keagamaan di Indonesia mampu bersaing di level global, sekaligus memperkuat diplomasi akademik nasional melalui jalur pendidikan tinggi.
Capaian Made juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) yang terus mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri agar aktif menghasilkan riset berdampak dan berkontribusi dalam ekosistem akademik internasional.
Keberhasilan dosen UHN Denpasar tersebut diharapkan menjadi pemantik semangat bagi akademisi PTKN lainnya untuk lebih berani membawa isu-isu strategis nasional ke forum dunia, sekaligus menunjukkan kapasitas riset Indonesia dalam menjawab tantangan pendidikan global. (Red/Gate 13/Foto: Ist./Kemenag)
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

