OpiniPeristiwa

Edisi Perjalanan Patriotik ke Denbukit Desa Sembiran

Oleh Ngurah Sigit*

Pagi itu kami berangkat dari Denpasar menuju Denbukit, Desa Sembiran, Bali Utara.

Perjalanan selama 2 jam 13 menit ditemani sunyi jalan dan lagu ‘Pesan Perjuangan Prananda Prabowo Putra Sang Fajar’ mengobarkan semangat dan cita tanah air.

Tiba di depan Pura Desa dan Puseh, kami haturkan canang dan doa suci. Seorang nenek tua berbaju putih, rambut diikat rapi seperti Brahmana yang kemudian mendekat.

Dengan lembut ia bertanya, “Mau ke mana, Jro?”. Kami jawab dengan sopan, “Menuju rumah di bukit itu”.

Beliau menunjuk dan berkata lirih, “Itu Puri Murdaning Jagat Bali. Di sana ada Griya Agung dan Ida Ratu Dukuh,”.

Beliau memberi kami sebutir beras merah dari selendangnya. “Makanlah, Jro, untuk kesehatan dan restu Maha Ibu Dewi Sakti,” katanya, lalu sembari memberi air suci.

Setelah mengucap “Rahayu, rahayu, rahayu,” ia berjalan menjauh dan menghilang entah kemana.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Di rumah adat Denbukit, kami disambut prebekel, pemangku, dan rakyat Sembiran. Kami duduk bersahaja, ngopi dan makan jajan tradisional.

Tidak lama, hadir diantara kami Bapak Wayan Koster. Rendah hati, beliau makan bersama masyarakat, menyampaikan pesan yang demikian mendalam, “Tanpa restu leluhur dan Betara, tidak ada titik temu. Bila restu telah turun, pasti ada jalan”.

Dan ia mengutarakan sebuah pesan penuh makna nusantara, “Air yang keluar dari batu itulah air suci Ponjok Batu disucikan dan diperebutkan karena membawa kehidupan”.

Senin, 14 Juli 2025

*Penulis adalah Sosiolog, Budayawan, dan Pemerhati Media.


Discover more from BliBrayaNews

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from BliBrayaNews

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading