OpiniPeristiwa

Hubungan Ajaran Palemahan dalam Tri Hita Karana dan Bencana Alam Sumatera

Oleh I Ketut Ginada*

Om Swastyastu. Ajaran Palemahan dalam Tri Hita Karana mengingatkan kita bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam, bukan berdiri di atasnya. Alam yang kita tempati hutan, tanah, sungai, laut, dan udara bukan hanya tempat tinggal, tetapi bagian dari kehidupan yang harus dihormati dan dijaga. Ketika hubungan manusia dengan alam terjaga, hidup menjadi harmonis. Namun ketika alam dieksploitasi berlebihan, keseimbangannya terganggu dan penderitaan pun muncul.

Pulau Sumatera adalah contoh nyata betapa pentingnya menjaga Palemahan. Sumatera memiliki kekayaan alam yang luar biasa: hutan tropis yang luas, sungai-sungai besar, dan kesuburan tanah yang tidak dimiliki semua daerah. Tetapi dalam beberapa tahun terakhir, kerusakan lingkungan di Sumatera semakin terlihat. Hutan ditebang tanpa kontrol, lahan dibakar untuk membuka kebun, tanah dikeruk oleh tambang tanpa reklamasi, dan sungai-sungai tercemar limbah industri maupun domestik. Lingkungan yang rusak ini kemudian menjadi pemicu bencana yang semakin sering terjadi seperti banjir besar, tanah longsor, kabut asap, kekeringan, bahkan krisis keanekaragaman hayati.

Dalam pandangan Hindu, keadaan seperti ini bukan hanya masalah teknis, tetapi cermin dari terganggunya harmoni Palemahan. Ajaran Palemahan menekankan bahwa manusia wajib menjaga keseimbangan alam karena alam adalah ciptaan suci Hyang Widhi. Atharvaveda mengingatkan bahwa bumi akan melindungi manusia jika manusia menjaga bumi. Ketika keseimbangan itu dilanggar, alam kehilangan kemampuannya menopang kehidupan manusia. Inilah sebabnya banyak bencana ekologis terjadi bukan hanya karena faktor alamiah, tetapi karena ulah manusia sendiri.

Bencana alam yang menimpa Sumatera dapat dipandang sebagai respons alam Ketika keseimbangannya dirusak. Bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai konsekuensi dari tindakan manusia yang tidak selaras dengan dharma lingkungan. Hutan yang gundul tidak lagi menahan air, sehingga hujan sedikit saja dapat menyebabkan banjir bandang. Tanah yang digali terus-menerus menjadi rapuh dan mudah longsor. Pembakaran hutan menimbulkan asap yang menyentuh kesehatan ribuan orang dan merusak udara yang semestinya menjadi anugerah kehidupan.

Ajaran Palemahan mengajak kita untuk kembali menata hubungan dengan alam. Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi kewajiban spiritual setiap umat. Menanam pohon, mengurangi sampah plastik, tidak membakar lahan, menjaga kebersihan sungai, serta memperlakukan alam dengan bijak adalah bentuk nyata dari menjalankan Palemahan dalam kehidupan sehari-hari. Bhuta Yadnya yang kita lakukan pun bukan hanya ritual, tetapi simbol bahwa kita menghormati dan berkomitmen menjaga keseimbangan alam melalui tindakan nyata.

Ajaran Palemahan dan bencana di Sumatera memberikan pesan penting kepada kita semua bahwa kesejahteraan manusia sangat bergantung pada keseimbangan antara manusia dan alam. Ketika kita menjaga alam, alam akan menjaga kita. Ketika kita merawat bumi, bumi akan merawat generasi yang datang setelah kita. Melalui ajaran Palemahan, umat Hindu diajak untuk menjadikan menjaga lingkungan sebagai bagian dari dharma, sebagai wujud bhakti kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Om Santih Santih Santih Om.

*Penulis adalah Penyuluh Agama Hindu Kab. Lampung Tengah


Discover more from BliBrayaNews

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from BliBrayaNews

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading