CCTV Semesta dan Drama Bernama Hidup
Oleh Ngurah Sigit*
“Hati-hati perjalanan waktu dalam kehidupan yang penuh dengan warna dan drama. Karena di mana-mana terpasang CCTV.”
Pesan itu datang dari Nanang Lecir, tokoh spiritual dan budayawan yang lebih sering memilih jalan sunyi dalam memberi peringatan pada dunia yang kian riuh.
Sekilas terdengar jenaka. Namun dalam tradisi lisan Nusantara, humor sering menyimpan ketajaman makna. Pesan itu bukan sekadar sindiran bagi era digital yang penuh pengawasan, tetapi juga isyarat filosofis: bahwa hidup ini bukan hanya tentang apa yang terlihat, tapi juga tentang bagaimana kita mempertanggungjawabkan apa yang tak tampak.
Jejak Digital, Jejak Moral
Zaman ini adalah zaman transparansi sekaligus ilusi. Segala hal direkam, disiarkan, dibagikan. Kamera pengawas ada di mana-mana, tetapi krisis integritas tetap merajalela. Korupsi, manipulasi, kekerasan verbal, dan pembunuhan karakter justru tumbuh subur dalam terang kamera. Maka, “CCTV” yang dimaksud Nanang Lecir tak sekadar benda. Ia adalah metafora dari hukum sebab-akibat, dari karma sosial, dari catatan moral yang tak bisa disensor atau dihapus.
Setiap orang kini hidup dalam panggung yang tak pernah benar-benar padam. Kita bisa memanipulasi layar, tetapi tidak bisa menghapus jejak.
Warna dan Drama yang Menyesatkan
Hidup penuh warna memang menggoda. Dunia kini menawarkan banyak “drama” sebagai tontonan: dari politik yang berisik, selebritas yang absurd, hingga spiritualitas yang diperdagangkan. Semuanya berlomba mencari sorotan, tak peduli apakah substansinya bermutu atau tidak.
Dalam pusaran itu, manusia kerap lupa bahwa hidup bukan sekadar viral, melainkan harus bernilai. Bukan sekadar ditonton, tapi juga dipertanggungjawabkan. Pesan Nanang Lecir adalah panggilan untuk jeda, untuk berhenti sejenak dari kebisingan dan kembali mendengar suara dalam diri.
Rahayu: Doa yang Terancam Sunyi
Di akhir pesannya, Nanang Lecir menyebut satu kata: RAHAYU, diulang tiga kali. Ini bukan sekadar penutup, melainkan mantra harapan. Rahayu berarti selamat, tenteram, dalam perlindungan yang baik. Namun hari-hari ini, Rahayu makin sulit dijumpai di ruang publik. Kita hidup di tengah masyarakat yang mudah marah, mudah curiga, dan miskin empati.
Rahayu menjadi doa bagi bangsa yang kian kehilangan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab, antara ekspresi dan introspeksi.
Waktu Terus Merekam
Zaman boleh berubah. Teknologi boleh makin canggih. Tapi pada akhirnya, hidup tetap tunduk pada prinsip dasar: apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Dunia boleh mengamati, tapi semesta-lah yang mencatat.
Maka hati-hatilah dalam melangkah. Karena di mana-mana, CCTV semesta sedang bekerja tanpa kabel, tanpa layar, tapi tak pernah lengah.
Rahayu. Rahayu. Rahayu.
*Penulis adalah Sosiolog, Budayawan dan Pemerhati Media.
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

