Opini

Di Bawah Pohon Pule, Kaki Gunung Batukaru

Oleh Ngurah Sigit*

Di bawah rindangnya pohon pule yang tua,
akar-akar besarnya memeluk tanah, seakan menjaga rahasia bumi.
Di kaki Gunung Batukaru yang sunyi dan sejuk,
sore ini kami duduk diam,
membiarkan waktu berjalan perlahan,
sementara angin mengusap lembut wajah dan kenangan.

Di kejauhan, pucuk-pucuk hutan tropis bergoyang seperti berdoa,
mengirimkan aroma tanah basah dan dedaunan yang baru tersentuh hujan.
Langit mulai merona jingga, warna yang hanya muncul sekali
dalam sehari,
saat matahari dan bumi saling berpamitan.

Dari sela desir daun, terdengar samar
nada sebuah lagu lama,
“Rembulan, bawa kami pulang…”
Dan hati pun bertanya lirih
pulang ke mana?
Ke masa lalu yang samar-samar terasa hangat?
Ke pelukan seseorang yang pernah ada, lalu pergi?
Atau sekadar pulang ke tempat
di mana jiwa ini merasa tenang
tanpa perlu menjelaskan apa-apa.

Di sini, waktu seakan kehilangan makna.
Setiap hembusan angin adalah pesan,
setiap bayangan pohon adalah cerita.
Dan Nanang Lecir, dalam senyapnya,
menuliskan semua ini bukan semata catatan,
melainkan bisikan hati di ujung hari
yang enggan berakhir.

Sebab ada senja yang membuat kita ingin tinggal lebih lama,
menjadi bagian dari alam yang tak terburu-buru,
dan percaya bahwa mungkin
kita tak pernah benar-benar jauh dari rumah.

*Penulis adalah Sosiolog, Budayawan dan Pemerhati Media.


Discover more from BliBrayaNews

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from BliBrayaNews

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading