Udayana Warmadewa, Pemimpin Rasa dan Penjaga Peradaban
Oleh Ngurah Sigit*
Sebelum Bali dikenal dunia sebagai destinasi wisata kelas dunia, sebelum tanah ini dipijak jutaan pelancong dan lensa kamera, di sanubari pulau yang dijaga gunung dan laut, pernah hidup seorang raja agung bukan karena kekayaannya, bukan karena wilayah kekuasaannya, tapi karena jiwa yang dibawanya dalam memimpin.
Namanya adalah Udayana Warmadewa. Ia bukan hanya penguasa di zamannya. Ia adalah jiwa kolektif Bali kuno. Namanya tertulis dalam prasasti, tetapi maknanya hidup dalam batin setiap anak negeri yang masih menghormati nilai-nilai kearifan leluhur.
Raja yang Memimpin dengan Rasa
Di saat dunia dikuasai oleh perebutan kekuasaan, Udayana hadir dengan wajah yang berbeda. Ia tidak datang membawa senjata, tapi membawa rasa (roso). Rasa itu tumbuh dalam setiap kebijakannya. Dalam cara ia mengatur negeri, dalam cara ia membina rakyat, dan dalam cara ia menjalin persaudaraan antarpulau.
Udayana berasal dari Dinasti Warmadewa, salah satu garis keturunan penguasa tertua dan paling disegani di Bali. Namun ia tidak menjadikan darah bangsawan sebagai alasan untuk berlaku tinggi hati. Justru, ia menunduk, mendengar, dan menyatu.
Cinta yang Menyatukan Peradaban
Pernikahannya dengan Ratu Mahendradatta dari Jawa, bukan hanya persatuan dua insan, melainkan penyatuan dua dunia. Bali dan Jawa, dua poros kebudayaan besar Nusantara, diikat dalam satu garis visi dan visi peradaban.
Dari pernikahan agung itu lahir tiga putra, yakni Airlangga yang kelak menjadi Raja besar di Jawa, Marakata, dan Anak Wungsu yang menjadi penerus tahta di Bali.
Mereka bukan hanya penerus darah, tapi penerus gagasan besar bahwa kekuasaan harus berakar pada cinta kasih, dan kepemimpinan sejati adalah yang mengayomi, bukan menguasai.
Membangun, Bukan Menaklukkan
Di zaman Udayana, prasasti demi prasasti ditemukan, tapi bukan untuk mencatat peperangan. Melainkan adalah irigasi yang dibangun, hutan yang dilindungi, tanah yang dibagikan, dan hukum yang ditegakkan dengan keadilan dan welas asih.
Inilah masa keemasan, bukan karena gemerlap istana, tapi karena terangnya pikiran dan lembutnya hati pemimpinnya. Pemimpin yang mendengarkan sebelum berbicara, yang melihat rakyat sebagai saudara, yang berpijak pada nilai, bukan hanya pada angka-angka kekuasaan.
Udayana, Warisan Jiwa Nusantara
Raja Udayana bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah cermin. Ia adalah pelita yang mengingatkan kita, bahwa kejayaan sejati tidak dibangun di atas kerakusan dan ego, tetapi di atas karakter yang luhur, kearifan lokal yang dijaga, dan semangat membangun tanpa merusak.
Kini, ketika zaman modern mengguncang akar-akar budaya, ketika informasi datang lebih cepat dari refleksi, kita perlu kembali menengok ke belakang, bukan untuk mundur, tapi untuk mengingat siapa kita.
Kita adalah anak-anak dari tanah yang ditanam nilai, bukan sekadar tanah yang dijual meteran. Kita adalah pewaris dari peradaban yang menjunjung rasa, bukan sekadar penggenggam kekuasaan yang hampa.
Untuk Kita, dan Masa Depan
Hari ini, mari kita warisi lebih dari sekadar nama. Warisi nilai. Warisi semangat. Warisi rasa. Udayana telah memberi teladan bahwa kuasa adalah amanah, ilmu adalah lentera, dan rakyat adalah keluarga.
Mari kita tumbuhkan kembali pohon-pohon peradaban, dengan akar pada sejarah, batang pada budaya, dan ranting yang menjulur ke masa depan. Agar suatu saat nanti, anak-anak cucu kita bisa berkata dengan bangga “leluhur kami bukan hanya raja, tapi pemimpin sejati”.
*Penulis adalah Sosiolog, Budayawan, dan Pemerhati Media.
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

