Opini

Melatih Diri Tenang dan Sabar Seperti Filosofi ‘Bertapa di Keramaian, Bersembunyi di Tempat yang Terang’

Oleh Ngurah Sigit*

Di tengah ketidakpastian dunia, ketika gejolak datang silih berganti, manusia kerap dihadapkan pada pilihan: melawan badai dengan amarah, atau menenangkan hati di tengah riuhnya kehidupan.

Cobaan hidup sering kali datang tanpa peringatan. Ia mengetuk pintu seperti tamu tak diundang, mengguncang perasaan, menguji kesabaran, dan menantang keteguhan hati. Namun, justru di saat-saat seperti itulah, kebijaksanaan lama mengajarkan kita untuk tidak tergesa.

Ketenangan, menurut pandangan ini, bukan tanda kelemahan. Menahan diri untuk tidak memamerkan luka atau meluapkan kekecewaan bukan berarti kalah, melainkan tanda kematangan batin. Dalam diam, ada ruang untuk mendengar suara hati; dalam sabar, ada kesempatan untuk memahami arti hidup; dan dalam ketidakpastian, sering kali kita menemukan secercah cahaya yang menuntun langkah.

Filosofi kuno menyebut “Bertapa di keramaian, bersembunyi di tempat yang terang”. Maknanya, kita tidak perlu mengasingkan diri untuk mencari kedamaian. Justru di tengah hiruk-pikuk dunia, kita bisa menjaga ketenangan. Kita tetap hadir, namun tidak hanyut; tetap bersinar, namun tidak menyilaukan.

Sikap ini mengajak kita untuk besar hati menerima hal-hal yang tak dapat diubah, sekaligus menguatkan diri agar tidak mudah goyah meski diterpa angin kehidupan. Sebab, pada akhirnya, kekuatan sejati tidak diukur dari seberapa lantang kita bersuara, tetapi dari seberapa tenang kita menghadapi badai.

Rahayu bagi setiap hati yang memilih sabar.
Rahayu bagi jiwa yang tetap teguh di tengah cobaan.
Rahayu bagi mereka yang menemukan cahaya, bahkan saat dunia terasa gelap.

*Penulis adalah Sosiolog, Budayawan, dan Pemerhati Media.


Discover more from BliBrayaNews

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from BliBrayaNews

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading