Berlalu 37 Tahun yang Lalu
Oleh: Ngurah Sigit*
Tiga puluh tujuh tahun yang lalu, aku datang ke Jogja hanya membawa ransel lusuh, mesin ketik tua, dan dada yang dipenuhi harapan. Jalan Malioboro masih sunyi di pagi hari, dan angin dari utara menyelipkan aroma perjuangan yang belum selesai.
Aku datang sebagai jurnalis muda, tapi Jogja mengajariku menjadi manusia. Di pendapa kecil tempat aku menumpang, suara gamelan menyelinap setiap malam, seakan menepuk bahuku: “Catatlah dengan hati, bukan hanya dengan tinta.”
Setiap langkah di kota ini adalah doa yang dipahatkan pada tanah. Dari obrolan pedagang kaki lima hingga senyum para mahasiswa yang bermimpi mengubah dunia, aku belajar bahwa cinta tanah air bukan hanya pekik di medan perang tetapi napas tenang yang menjaga agar harapan tetap hidup.
Mesin ketikku sering macet, huruf-hurufnya melompat tak beraturan, namun justru dari keberisikan itulah lahir berita-berita yang jujur. Aku menulis tentang rakyat kecil, tentang perjuangan, tentang luka yang disembunyikan negeri. Jogja menjadi saksi bagaimana kata-kataku berubah dari gemetar menjadi berani.
Kini, tiga puluh tujuh tahun telah berlalu.
Ransel lusuh itu sudah pudar, mesin ketikku tinggal kenangan, tapi nilai yang kutemukan di kota ini tetap mengalir seperti sungai Code, setia, sederhana, namun tak pernah berhenti menuju laut.
Jogja mengajariku bahwa waktu bukan sekadar berlalu, tetapi mendewasakan. Bahwa cinta tanah air adalah kesetiaan dalam diam, kerja tanpa tepuk tangan, dan keberanian untuk tetap jujur meski angin sejarah berubah arah.
Dan setiap kali aku kembali ke kota ini, aku selalu mendengar bisikan yang sama seperti pertama datang: “Teruslah menulis. Teruslah mencintai. Teruslah menjadi Indonesia.”
*Penulis adalah Sosiolog dan Pemerhati Media.
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.
