Karismatik Sang Master, Lahir dari Doa dan Keteladanan Ibu
Oleh Ngurah Sigit*
Sosok yang disebut sebagai “Sang Master” tidak lahir dari ambisi, melainkan dari tempaan nilai yang ditanamkan sejak dini. Dalam keheningan doa dan pelukan kasih seorang ibu, karakter itu dibangun: rendah hati tanpa kehilangan wibawa, tegas tanpa meninggalkan kelembutan, serta mampu mendengar sebelum memutuskan.
Pendidikan yang diterimanya bukan sekadar ajaran moral, tetapi pembentukan watak. Ia diajarkan bahwa kebesaran tidak selalu identik dengan kekuasaan. Karena itu, ketika ia berdiri di garis terdepan pengabdian, bahkan dekat dengan pusat kekuasaan, kehadirannya bukan untuk mendominasi, melainkan menjaga arah dan keseimbangan.
Sang ibu menjadi fondasi spiritual dan moral dalam perjalanan hidupnya. Nilai kebijaksanaan, keberanian yang terukur, serta keyakinan pada tujuan yang lebih besar dari kepentingan pribadi membentuknya menjadi figur karismatik. Ucapannya jujur, langkahnya terukur.
Di hadapan pemimpin, ia hadir sebagai suara nurani. Di tengah masyarakat, ia tampil sebagai simbol persatuan. Ia memahami bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada kekuasaan atau alat penakluk, melainkan pada kemampuan merangkul dan menyatukan.
Spiritualitas yang membumi berpadu dengan semangat patriotisme yang menyala. Perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan potensi untuk dirajut menjadi kesepakatan bersama. Dalam perspektif itulah Nusantara tidak ditaklukkan, tetapi dirangkul.
Sang Master dikenang bukan karena atribut kekuasaan, melainkan karena jiwa yang mampu menjembatani zaman.
*Penulis adalah sosiolog, budayawan, dan pemerhati media.
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

