Kolaborasi Densus 88 AT Polri dan Kemenag Bangli Perkuat Pencegahan Radikalisme di Lingkungan Pendidikan
Bangli – Tim Pencegahan Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Bali Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian Negara Republik Indonesia (Densus 88 AT Polri) berkolaborasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bangli menggelar seminar bertema “Pencegahan Paham Radikalisme dan Ekstremisme Kekerasan pada Kalangan Pemuda” di Ruang Rapat Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli, Bali, Rabu (24/6/2026).
Seminar tersebut diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri atas Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), penyuluh agama, serta guru lintas agama jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA) se-Kabupaten Bangli.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat kolaborasi antara Densus 88 AT Polri dengan kementerian, lembaga, serta berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) dalam upaya mencegah penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme kekerasan.
Selain itu, seminar juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tenaga pendidik mengenai potensi ancaman radikalisme terhadap anak dan remaja.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Subbagian Tata Usaha (Kasubag TU) Kementerian Agama Kabupaten Bangli, Tjokorda Krisyanta, serta Kepala Seksi (Kasi) Urusan Agama Hindu, Ida Bagus Ketut Suta Wirawan.
Sementara Tim Satgaswil Bali Densus 88 AT Polri dipimpin Inspektur Polisi Dua (Ipda) Hadi Nata Kusuma, S.H., M.H., selaku narasumber, didampingi Brigadir Polisi Satu (Briptu) Kadek Ade Wiratama dan BRIPTU Dewa Gede Bayu Sastratika, S.H.
Dalam sambutannya, Tjokorda Krisyanta yang mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya seminar tersebut.
Ia menegaskan bahwa lembaga pendidikan memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mencegah berkembangnya paham radikalisme dan ekstremisme kekerasan di tengah masyarakat.
“Guru, penyuluh agama, dan seluruh unsur pendidikan memiliki tanggung jawab penting dalam membentuk karakter generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan kemanusiaan,” ujarnya.
Pada sesi pemaparan materi, IPDA Hadi Nata Kusuma menjelaskan dinamika perkembangan kelompok radikal serta tantangan penyebaran paham ekstremisme yang kini semakin memanfaatkan ruang digital.
Menurutnya, media sosial dan permainan daring (online game) menjadi salah satu sarana yang kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan propaganda dan narasi kekerasan kepada anak-anak maupun remaja.
Selain mengulas potensi ancaman tersebut, Tim Satgaswil Bali Densus 88 AT Polri juga memaparkan berbagai langkah pembinaan yang telah dilakukan terhadap anak-anak yang terindikasi terpapar paham radikalisme melalui kolaborasi dengan berbagai instansi terkait.
Peserta turut diberikan informasi mengenai jalur komunikasi dan layanan pelaporan yang dapat dimanfaatkan apabila menemukan indikasi penyebaran paham radikalisme maupun tindakan kekerasan di lingkungan pendidikan.
Tim Satgaswil Bali menegaskan bahwa pencegahan radikalisme memerlukan sinergi seluruh elemen, mulai dari sekolah, keluarga, tokoh agama, pemerintah, hingga aparat keamanan.
Para peserta diharapkan dapat menjadi mitra strategis dalam menyebarluaskan nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan kebangsaan kepada peserta didik, keluarga, maupun masyarakat di lingkungan masing-masing.
Seminar berlangsung secara interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Tercatat tiga peserta mengajukan pertanyaan mengenai strategi pencegahan serta penanganan paparan radikalisme di lingkungan pendidikan, yang dijawab secara komprehensif oleh narasumber.
Sebagai penutup, seluruh peserta mengikuti Deklarasi Anti Bullying dan Anti Radikalisme sebagai bentuk komitmen bersama dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan bebas dari paham kekerasan.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan foto bersama serta pemberian suvenir kontra narasi kepada peserta yang aktif selama seminar berlangsung.
Melalui seminar ini, Densus 88 AT Polri bersama Kementerian Agama Kabupaten Bangli berharap terbangun kesadaran kolektif sekaligus memperkuat peran seluruh elemen pendidikan dalam mencegah penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme kekerasan.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperkokoh ketahanan generasi muda sebagai aset bangsa menuju Indonesia yang aman, damai, dan harmonis. (Gate 13/Foto: Ist./Humas)
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

