Pemerintah

Koster Pilih Bergerak, Bukan Sekadar Mengeluh: Sampah Bali Kini Jadi Pertaruhan Masa Depan Pulau Dewata

Jakarta – Di saat sebagian pihak masih sibuk menjadikan persoalan sampah sebagai bahan perdebatan dan keluhan di media sosial, Gubernur Bali Wayan Koster justru memilih bekerja senyap membangun koordinasi serius demi menyelamatkan masa depan Bali dari ancaman darurat lingkungan.

Bagi Gubernur Bali dua periode tersebut, persoalan sampah bukan lagi isu pinggiran yang bisa ditunda penyelesaiannya.

Sampah kini dipandang sebagai ancaman nyata yang dapat merusak wajah Bali sebagai destinasi wisata dunia apabila tidak ditangani secara cepat, terukur, dan berkelanjutan.

Karena itu, koordinasi intensif yang terus dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dengan pemerintah pusat dinilai bukan sekadar rutinitas birokrasi biasa, melainkan bagian dari langkah strategis untuk memastikan penanganan sampah benar-benar berjalan di lapangan.

Komitmen tersebut kembali terlihat dalam pertemuan Gubernur Bali Wayan Koster dengan Menteri Lingkungan Hidup (LH), Moh. Jumhur Hidayat, di Jakarta, Senin (26/5/2026).

“Penanganan sampah tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus ada koordinasi kuat antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, desa adat, pelaku usaha, dan masyarakat. Karena sampah sudah menjadi persoalan bersama yang menyangkut masa depan Bali,” tegas Koster.

Gubernur Bali jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu juga menegaskan bahwa komunikasi dengan Menteri LH berjalan sangat baik karena adanya kesamaan cara pandang dalam melihat persoalan lingkungan dan masa depan Bali.

“Sesama alumni ITB Bandung memudahkan dalam menyamakan persepsi dalam kebijakan dan upaya nyata yang harus dilaksanakan untuk menuntaskan penyelesaian masalah sampah di Bali, rahayu,” ujar Koster.

Di tengah tekanan pertumbuhan sektor pariwisata dan meningkatnya produksi sampah setiap hari, Koster menilai Bali tidak cukup hanya mengandalkan slogan kebersihan atau kampanye simbolik semata.

Menurutnya, yang dibutuhkan adalah perubahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari pengurangan sampah dari sumber, penguatan pengelolaan berbasis desa dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R), hingga pembangunan teknologi pengolahan modern seperti Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).

“Kalau sampah ini tidak ditangani serius dari sekarang, Bali akan menghadapi masalah lingkungan yang jauh lebih berat. Karena itu saya tidak pernah berhenti berkoordinasi agar penanganannya berjalan cepat, terpadu, dan nyata di lapangan,” terang Koster.

Langkah koordinasi yang terus dilakukan Pemprov Bali juga menjadi jawaban terhadap pihak-pihak yang selama ini menganggap persoalan sampah cukup diselesaikan melalui kritik dan penolakan tanpa solusi konkret.

Sebab realitasnya, sampah tidak akan hilang hanya melalui perdebatan. Bali membutuhkan kerja nyata, keberanian mengambil keputusan, dan konsistensi kebijakan lintas sektor.

Rencananya, Menteri LH, Moh. Jumhur Hidayat akan turun langsung ke Bali pada Selasa (9/6/2026) bersama gubernur, wali kota, dan para bupati untuk melihat langsung kondisi penanganan sampah, termasuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung yang selama bertahun-tahun menjadi simbol darurat lingkungan yang tak kunjung tuntas.

Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah pusat kini mulai memberikan perhatian serius terhadap ancaman sampah di Bali yang semakin kompleks seiring pertumbuhan pariwisata dan urbanisasi.

Bagi Gubernur Koster, menjaga Bali bukan sekadar membangun infrastruktur atau memperkuat sektor pariwisata. Menjaga Bali berarti memastikan alamnya tetap lestari, lautnya bebas dari sampah plastik, dan generasi mendatang tidak mewarisi Pulau Dewata yang tenggelam oleh persoalan sampahnya sendiri. (Gate 13/Foto: Ist./Dok.)


Discover more from BliBrayaNews

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from BliBrayaNews

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading