Kabupaten/Kota

Terkena ISPA Hingga Kehilangan Suara Saat Padamkan Karhutla, Iptu Agus Dihubungi Kapolri

Palangka Raya – Di tengah perjuangan menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah, seorang anggota kepolisian harus menghadapi persoalan kesehatan akibat paparan asap saat bertugas.

Inspektur Polisi Satu (Iptu) M. Agus Setiawan, Kepala Unit (Kanit) Patroli Samapta Polresta Palangka Raya, mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga kehilangan suara setelah terlibat dalam upaya pemadaman kebakaran.

Kondisi tersebut membuat kisah pengabdiannya menjadi perhatian publik. Meski kesehatannya terganggu, Iptu Agus masih memiliki keinginan untuk membantu rekan-rekannya yang berjuang mengatasi kebakaran.

Perhatian terhadap kondisi Iptu Agus kemudian datang langsung dari Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si.

Pada Rabu (21/10/2026), Kapolri menghubunginya melalui sambungan telepon untuk menyampaikan penghargaan atas dedikasi yang telah ditunjukkan sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan.

“Memberikan apresiasi dan rasa bangga yang setinggi-tingginya kepada seluruh anggota di lapangan, khususnya Pak Agus dan rekan-rekan, yang tanpa lelah berjibaku memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (karhutla),” kata Kapolri.

Bagi personel yang menangani karhutla, tugas pemadaman tidak hanya membutuhkan tenaga dan keberanian. Kondisi lingkungan yang dipenuhi asap serta panas dari titik-titik kebakaran juga menuntut kewaspadaan terhadap risiko kesehatan.

Paparan asap dapat menimbulkan gangguan pernapasan, terutama ketika berlangsung dalam waktu lama atau terjadi pada lingkungan dengan kualitas udara yang buruk.

Iptu Agus merupakan salah satu personel yang mengalami gangguan kesehatan dalam pelaksanaan tugas tersebut.

Ia mengaku telah mendapatkan pemeriksaan dokter dan disarankan untuk beristirahat selama satu minggu.

Namun, rasa tanggung jawab terhadap rekan-rekannya membuat Iptu Agus masih ingin memberikan bantuan selama kondisi fisiknya memungkinkan.

“Memang kondisi kesehatan saya sedang kurang baik karena ISPA, bahkan sampai kehilangan suara. Dokter juga sudah menyarankan saya untuk beristirahat selama satu minggu. Namun, selagi masih mampu, saya ingin tetap membantu rekan-rekan dalam upaya pemadaman karhutla,” ujar Agus.

Pernyataan tersebut menggambarkan kepedulian Iptu Agus terhadap tugas yang sedang dihadapi bersama anggota lainnya.

Namun, keinginan untuk tetap bertugas di tengah gangguan kesehatan juga memperlihatkan pentingnya dukungan dan pengawasan medis terhadap personel yang menangani situasi berisiko tinggi.

Dalam percakapan melalui telepon, Kapolri menyampaikan rasa bangga atas semangat yang ditunjukkan Iptu Agus.

“Saya sebagai Kapolri, ikut bangga. Anda punya semangat yang luar biasa. Semoga ini menjadi ibadah dan juga tentunya akan membawa perubahan, terutama dalam memadamkan api di sana,” ujarnya.

Di balik apresiasi tersebut, Kapolri memberikan pesan yang tidak kalah penting, yakni agar Iptu Agus memprioritaskan kesehatan dan tidak menunda pemeriksaan apabila kondisi tubuh semakin berat.

“Tapi tetap jaga kesehatan ya Pak ya, itu yang pertama. Kalau Bapak merasa sudah agak berat, jangan sampai terlambat datang ke rumah sakit untuk juga berobat ya,” tutur Kapolri.

Pesan itu menempatkan keselamatan personel sebagai bagian penting dari tanggung jawab organisasi terhadap anggotanya.

Pengabdian di lapangan memang membutuhkan komitmen, tetapi kemampuan personel untuk terus membantu masyarakat juga bergantung pada kondisi kesehatan yang terjaga.

Karena itu, istirahat sesuai anjuran dokter, pemeriksaan kesehatan lanjutan apabila diperlukan, serta perlindungan dari paparan asap menjadi langkah penting dalam proses pemulihan.

Penanganan karhutla sendiri merupakan pekerjaan yang membutuhkan dukungan banyak pihak. Upaya memadamkan api harus berjalan bersamaan dengan pencegahan meluasnya kebakaran dan perlindungan masyarakat dari dampak kabut asap.

Dalam kondisi tersebut, setiap petugas memiliki peran penting, baik ketika menjalankan pemadaman langsung maupun ketika mendukung kegiatan penanganan melalui tugas lain yang sesuai dengan kondisi fisiknya.

Perhatian Kapolri kepada Iptu Agus menjadi bagian dari dukungan moral terhadap personel yang bekerja menghadapi risiko di lapangan.

Kisah tersebut sekaligus memberikan pelajaran bahwa semangat membantu masyarakat perlu disertai kesadaran untuk menjaga diri sendiri dan rekan kerja.

Sebab, pengabdian yang berkelanjutan tidak hanya membutuhkan keberanian menghadapi bahaya, tetapi juga kedisiplinan dalam menjaga kesehatan dan keselamatan.

Melalui semangat “Polisi Bersama Masyarakat”, kepedulian terhadap warga yang terdampak karhutla diharapkan berjalan seiring dengan perhatian kepada para petugas yang menjalankan tugas kemanusiaan.

Bagi Iptu Agus dan seluruh personel yang terlibat, keselamatan tetap menjadi prioritas agar upaya penanganan kebakaran dapat berlangsung secara efektif dan berkesinambungan. (Red/Gate 13/Foto: Ist./Divhumas)


Discover more from BliBrayaNews

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from BliBrayaNews

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading