Karhutla Kalteng Tertinggi Nasional, Astamaops Kapolri Kerahkan 200 Personel Brimob dan Empat Water Cannon
Palangka Raya – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi perhatian serius jajaran Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Dengan jumlah titik panas yang tercatat tertinggi secara nasional, penguatan personel, sarana pemadaman, pemantauan udara, serta langkah pencegahan dini terus dilakukan untuk menekan risiko meluasnya kebakaran dan dampaknya terhadap masyarakat maupun lingkungan.
Asisten Utama Kapolri Bidang Operasi (Astamaops) Komjen Pol. Dr. Roycke Harry Langie, S.I.K., M.H., memimpin Analisis dan Evaluasi (Anev) penanganan karhutla jajaran Polda Kalteng di Posko Karhutla, Gedung Bhayangkara, Mapolda Kalteng, Kamis (15/10/2026).
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Astamaops bersama Kapolda Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan, S.I.K., M.Si., juga melaksanakan asistensi dan supervisi terhadap penanganan karhutla di Posko Karhutla Satbrimob Polda Kalteng, Jalan Tjilik Riwut Km 39, Palangka Raya.
Dalam paparannya, Roycke mengungkapkan bahwa data penanganan karhutla hingga 14 Oktober 2026 menunjukkan situasi yang memerlukan perhatian dan respons terpadu.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam Anev, jumlah hotspot secara nasional mencapai 413.824 titik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23.981 titik telah melalui proses verifikasi sebagai titik api, sedangkan tindakan pemadaman tercatat sebanyak 44.942 titik.
Kalimantan Tengah menempati urutan pertama dengan 307.845 hotspot. Posisi berikutnya ditempati Kalimantan Barat dengan 42.963 titik, Sumatera Selatan 35.186 titik, Kalimantan Timur 16.375 titik, dan Kalimantan Selatan 11.455 titik.
Sementara itu, luas lahan terbakar secara nasional tercatat mencapai 343.543,34 hektare, dengan 194.730,46 hektare di antaranya dilaporkan telah berhasil dipadamkan.
Di wilayah Kalteng, lima daerah dengan jumlah hotspot terbanyak adalah Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 46.920 titik, Kabupaten Kapuas 44.975 titik, Kabupaten Seruyan 34.302 titik, Kota Palangka Raya 29.596 titik, dan Kabupaten Katingan 28.078 titik. Dalam upaya penanggulangan bencana tersebut, jajaran Polda Kalteng melibatkan 3.237 personel.
Menghadapi kondisi tersebut, Kapolda Kalteng Irjen Pol. Iwan Kurniawan memaparkan berbagai langkah operasional dan inovasi yang telah diterapkan untuk memperkuat pencegahan maupun penanganan karhutla.
Upaya itu meliputi koordinasi bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), apel gelar pasukan Operasi Aman Nusa II, pembangunan 1.323 menara pantau, penyediaan 1.227 embung air, serta pembuatan 4.932 titik sumur bor.
Polda Kalteng juga membentuk Satgas Pemburu Api gabungan dan memanfaatkan drone thermal untuk membantu pemantauan kondisi lahan serta mendeteksi potensi kebakaran.
“Langkah tersebut di antaranya melakukan rapat koordinasi bersama Forkopimda, apel gelar pasukan Operasi Aman Nusa II, pembangunan 1.323 menara pantau, 1.227 embung air, dan 4.932 titik sumur bor, pembentukan Satgas Pemburu Api gabungan, serta monitoring menggunakan drone thermal,” jelas Kapolda.
Untuk mempercepat respons di lapangan, Polda Kalteng menerapkan pola penanganan berlapis melalui Pos Pengamanan Karhutla (PPK) di titik-titik rawan dan Pos Utama Pengamanan Karhutla (PUPK) di tingkat Polres. Setiap unsur didukung Mini Command Center guna membantu integrasi informasi dan koordinasi penanganan.
Inovasi juga dikembangkan dalam metode pemadaman, antara lain penggunaan serbuk penyekat api, cairan surfaktan biodegradable, metode pemadaman dengan nozzle injector, serta pembuatan cairan X-Fire. Berbagai pendekatan tersebut diarahkan untuk mendukung efektivitas pemadaman sesuai kondisi lapangan.
Selain penanganan kebakaran, perhatian diberikan terhadap dampak asap terhadap kesehatan masyarakat. Polda Kalteng telah membentuk Rumah Oksigen bagi masyarakat, menyediakan layanan oksigen bergerak melalui RS Bhayangkara, serta menyiapkan Tim Trauma Healing untuk membantu warga yang terdampak.
Dalam rekomendasi dan tindak lanjut Anev, Astamaops Kapolri menekankan pentingnya penguatan sarana dan prasarana pemadaman, mulai dari pembuatan sumur bor tambahan, pengaktifan embung air melalui koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, dan perusahaan perkebunan, hingga pengadaan pompa air serta selang berdiameter dua inci dengan panjang 500 meter.
Penguatan kekuatan personel juga menjadi prioritas. Polri menyiapkan tambahan 200 personel Brimob yang dijadwalkan tiba di Polda Kalteng pada 16 Oktober 2026. Selain itu, empat unit mobil water cannon dari Polda Jawa Timur dan Polda Jawa Tengah akan digeser untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalteng.
“Sebanyak 200 personel pasukan Brimob akan dikirim ke Polda Kalteng dan dijadwalkan tiba pada 16 Oktober, serta empat unit mobil Water Canon dari Polda Jatim dan Polda Jateng akan digeser untuk BKO Polda Kalteng,” ujar Roycke dalam paparannya.
Usai kegiatan Anev, rombongan melaksanakan asistensi dan supervisi di Posko Karhutla Satbrimob Polda Kalteng. Dansatbrimob Polda Kalteng Kombes Pol. Dieno Hendro Widodo, S.I.K., M.H., mendampingi Kapolda dan Astamaops Kapolri meninjau langsung pelaksanaan tugas personel di lokasi.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan memantau kondisi lapangan, termasuk titik-titik panas melalui penggunaan drone. Pemantauan udara dilakukan untuk memperoleh gambaran kondisi lahan dan mengidentifikasi area yang masih berpotensi mengalami kebakaran.
Di lokasi yang telah ditangani, personel Satgas Karhutla Satbrimob Polda Kalteng terus melakukan pembasahan atau pendinginan guna mengantisipasi munculnya kembali api.
Langkah ini penting untuk memastikan bara yang masih tersisa tidak memicu kebakaran susulan, terutama pada lahan yang memiliki potensi menyimpan panas di bawah permukaan.
Dansatbrimob Polda Kalteng Kombes Pol. Dieno Hendro Widodo menegaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kesiapsiagaan, pengawasan berkelanjutan, dan keterlibatan seluruh pihak.
Menurutnya, keberhasilan pemadaman tidak cukup diukur dari padamnya api yang terlihat, tetapi juga dari kemampuan memastikan area terdampak tetap aman.
“Upaya penanganan karhutla tidak berhenti setelah api berhasil dipadamkan. Lahan yang masih berpotensi menyala harus terus dipantau dan dilakukan pembasahan agar api tidak kembali muncul. Kami berkomitmen untuk terus hadir dan bekerja bersama seluruh pihak demi melindungi masyarakat serta menjaga lingkungan dari dampak kebakaran hutan dan lahan,” ungkapnya.
Dalam arahannya, Roycke kembali menekankan pentingnya mengutamakan langkah antisipasi sebelum kebakaran berkembang menjadi lebih besar. Kecepatan mendeteksi potensi kebakaran harus diikuti tindakan nyata, termasuk penyiraman dan pembasahan pada area yang terindikasi rawan.
“Kita harus mulai bergerak, hadir lebih awal dan mengambil langkah nyata sebelum situasi berkembang menjadi lebih besar. Apabila terdeteksi hotspot, segera lakukan antisipasi dini melalui penyiraman dan pembasahan area sebelum berkembang menjadi firespot,” tegasnya.
Astamaops Kapolri juga menegaskan pentingnya sinergi antara kepolisian, pemerintah daerah, BNPB, perusahaan perkebunan, dan masyarakat dalam menghadapi ancaman karhutla.
Penguatan personel dan peralatan perlu diimbangi dengan deteksi dini, respons cepat, pemantauan berkelanjutan, serta upaya pencegahan yang konsisten.
Di sisi lain, masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api di lingkungan sekitarnya. Partisipasi publik dinilai penting untuk membantu petugas mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin.
Melalui Anev, penguatan personel, serta supervisi langsung di lapangan, jajaran Polri diharapkan mampu meningkatkan efektivitas penanggulangan karhutla di Kalimantan Tengah.
Langkah terpadu tersebut menjadi bagian penting dalam mencegah meluasnya kebakaran, mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, serta melindungi kelestarian lingkungan. (Red/Gate 13/Foto: Ist./DivHumas)
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

