Koster Dorong Bali Miliki Standar MICE Berbasis Budaya, Perkuat Dampak Ekonomi Lokal
Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan posisi Bali sebagai salah satu pusat penyelenggaraan pertemuan internasional dunia atau meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE).
Untuk memperkuat posisi tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mendorong lahirnya standar MICE khas Bali yang berkarakter, berbasis budaya lokal, serta mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat dan pelaku usaha daerah.
Hal itu disampaikan Koster saat menerima audiensi jajaran pelaku pariwisata yang tergabung dalam Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) di Jayasabha, Denpasar, Rabu (27/5).
Menurut Koster, Bali selama ini telah menjadi pusat berbagai pertemuan internasional berskala besar karena didukung fasilitas yang memadai, sumber daya manusia yang kompeten, serta keamanan dan kenyamanan yang mampu memenuhi kebutuhan tamu negara maupun delegasi internasional.
“Bali sudah secara de facto menjadi pusat meeting internasional. Selama ini begitu banyak pertemuan dunia diselenggarakan di Bali karena fasilitas kita kuat, SDM siap, keamanan dan kenyamanan VVIP terjaga,” ujar Koster.
Namun demikian, Koster menilai kekuatan utama Bali tidak hanya terletak pada keberadaan hotel, ballroom, maupun convention center berstandar internasional. Menurutnya, nilai lebih yang dimiliki Bali adalah kekayaan budaya yang unik dan tidak mudah ditiru oleh destinasi lain.
Ia mencontohkan keberhasilan Bali menjadi tuan rumah berbagai agenda internasional, termasuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 dan World Water Forum yang menghadirkan puluhan ribu peserta dari berbagai negara. Dalam penyelenggaraan forum tersebut, Bali dinilai mampu menggabungkan fasilitas modern dengan kekuatan budaya lokal serta filosofi kehidupan masyarakat Bali seperti Sad Kerthi, Danu Kerthi, dan sistem subak.
“Kita jangan terlalu terbawa arus luar karena branding Bali sudah sangat kuat. Yang menjadi nilai jual utama adalah budaya Bali,” katanya.
Karena itu, Koster meminta BaliCEB merumuskan standar penyelenggaraan MICE yang memiliki identitas khas Bali sehingga mampu membedakan Bali dari destinasi MICE lainnya di tingkat global.
“Organisasi silakan rumuskan standar MICE di Bali yang unik supaya punya identitas. Kontennya harus orisinal, dipikirkan dan diurus dengan benar sehingga semua penyelenggara punya acuan,” tegasnya.
Selain penguatan identitas budaya, Koster juga menekankan pentingnya keterlibatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam setiap penyelenggaraan kegiatan MICE. Menurutnya, seluruh rantai kegiatan, mulai dari transportasi, dekorasi, konsumsi, hingga penyediaan cenderamata, harus memberi ruang yang lebih besar bagi pelaku usaha lokal.
“MICE harus mampu mendukung UMKM lokal Bali. Bangkitkan spirit kelokalan agar dampaknya lebih optimal terhadap pelaku ekonomi Bali,” ujarnya.
Gubernur Bali dua periode itu juga memastikan pemerintah terus melakukan pembenahan terhadap sejumlah persoalan yang masih menjadi perhatian wisatawan, seperti pengelolaan sampah dan kemacetan lalu lintas. Upaya tersebut dilakukan secara bertahap guna menjaga daya saing Bali sebagai destinasi pariwisata dan MICE kelas dunia.
Sementara itu, Ketua Umum Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB), Ketut Jaman, mengungkapkan antusiasme pelaku industri pariwisata untuk bergabung dalam organisasi tersebut terus meningkat.
“Sudah ratusan yang ancang-ancang bergabung dengan MICE ini. Kita ingin Bali menjadi pusat MICE dunia,” kata Ketut Jaman.
Ia menjelaskan Bali saat ini memiliki ratusan fasilitas pendukung MICE, termasuk sekitar 30 ballroom berkapasitas lebih dari 200 orang yang tersebar di berbagai kawasan pariwisata.
Sebagai bagian dari penguatan kelembagaan, pelantikan pengurus BaliCEB dijadwalkan berlangsung pada 5 Juni mendatang di kawasan The Meru, Sanur. Organisasi tersebut menargetkan Bali menjadi destinasi utama penyelenggaraan ribuan agenda pertemuan internasional yang setiap tahun berlangsung di berbagai negara.
Selain itu, BaliCEB juga menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pungutan wisatawan asing yang diterapkan Pemerintah Provinsi Bali melalui berbagai kegiatan sosialisasi kepada peserta maupun penyelenggara event MICE.
Menurut Ketut Jaman, sektor MICE memiliki kontribusi strategis terhadap pertumbuhan industri pariwisata Bali karena mampu meningkatkan tingkat hunian hotel sekaligus mendorong kunjungan wisatawan ke berbagai destinasi dan daya tarik wisata di Pulau Dewata.
“MICE sangat membantu tingkat hunian hotel maupun kunjungan ke daya tarik wisata di Bali,” ujarnya. (Gate 13/Foto: Ist.)
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

