Opini

Persahabatan Sejati Bagaikan Mata Air

Oleh Nanang Lecir*

Dari tanah Jawa Timur, dalam perjalanan panjang pengabdian kepada bangsa dan negara, dua putra Nusantara dipertemukan dalam satu ikatan yang kelak melampaui pangkat, jabatan, dan perjalanan waktu: Akademi Kepolisian (Akpol) Angkatan 1990.

Satu adalah putra Bali, Komjen Pol (Purn.) Drs. I Ketut Suardana, M.Si. Satu lagi putra Jawa Timur, Irjen Pol Drs. Jawari, S.H., M.H.

Keduanya menapaki jalan panjang sebagai Bhayangkara. Mereka ditempa oleh pendidikan, pengalaman, tanggung jawab, dan berbagai penugasan dalam perjalanan pengabdian kepada institusi, masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam perjalanan itu, keduanya juga dipertemukan dalam bidang pengabdian yang memiliki arti sangat penting: membangun dan mengembangkan Sumber Daya Manusia Bhayangkara.

Sebab membangun institusi tidak hanya berbicara tentang sistem, struktur, atau teknologi. Di dalamnya terdapat manusia-manusia yang harus dibentuk dengan karakter, integritas, disiplin, kompetensi, dan semangat pengabdian.

Membangun manusia, pada akhirnya, berarti ikut membangun kekuatan institusi dan masa depan negeri.

Waktu pun terus bergulir. 
Tahun berganti tahun. 
Pangkat datang dan pergi. 
Jabatan silih berganti.

Amanah berubah mengikuti perjalanan pengabdian.

Kini, Komjen Pol (Purn.) Drs. I Ketut Suardana, M.Si. telah menuntaskan masa pengabdian kedinasannya sebagai anggota Polri. Sementara Irjen Pol Drs. Jawari, S.H., M.H. masih melanjutkan amanah dan pengabdian di barisan Bhayangkara.

Namun, perjalanan kedinasan memiliki satu perbedaan dengan persahabatan sejati.

Masa tugas dapat berakhir, tetapi persaudaraan yang dibangun dengan ketulusan tidak mengenal purna tugas.

Persahabatan sejati bagaikan mata air. 
Ia jernih karena lahir dari ketulusan. 
Ia menghidupi karena memberi kekuatan.

Ia terus mengalir karena memiliki sumber yang tidak mudah kering.

Hujan boleh datang. 
Kemarau boleh panjang. 
Zaman boleh berubah.

Namun mata air akan terus menemukan jalannya selama sumbernya tetap terjaga.

Begitulah persahabatan.

Ia tidak semata-mata dibangun oleh kesamaan jabatan. Ia tidak bergantung pada pangkat. Ia tidak pula bertahan hanya karena kepentingan.

Persahabatan sejati tumbuh dari perjalanan bersama. 
Dari masa-masa ketika seseorang saling mengenal dalam perjuangan. 
Dari kesediaan untuk saling menghormati. 
Dari ketulusan untuk saling mendukung.

Dan dari keyakinan bahwa persaudaraan harus tetap dijaga, bahkan ketika perjalanan hidup membawa setiap orang menuju jalan pengabdiannya masing-masing.

Sebab pada akhirnya, pangkat hanyalah amanah. 
Jabatan hanyalah persinggahan. 
Sedangkan pengabdian dan persaudaraan adalah jejak kehidupan yang dapat tinggal jauh lebih lama daripada masa jabatan itu sendiri.

Dari Bali dan Jawa Timur, dua putra Nusantara dipertemukan oleh pengabdian.

Ditempa oleh perjalanan. 
Diuji oleh waktu. 
Dan dipersatukan oleh ketulusan.

Mereka berasal dari tanah yang berbeda, dengan latar budaya yang memperkaya perjalanan hidup masing-masing. Namun Indonesia mempertemukan keduanya dalam satu ikatan kebangsaan dan satu jalan pengabdian sebagai Bhayangkara.

Itulah salah satu kekuatan Nusantara. 
Berbeda asal, tetapi dipersatukan oleh cita-cita. 
Berbeda daerah, tetapi mengabdi untuk tanah air yang sama.

Berbeda perjalanan, tetapi tetap menjaga persaudaraan.
Seragam boleh suatu hari dilepas. 
Jabatan boleh berakhir. 
Masa kedinasan memiliki batas.

Tetapi persahabatan sejati tidak seharusnya berhenti ketika tanda kepangkatan tak lagi dikenakan.

Sebab sahabat sejati tidak hanya hadir ketika perjalanan sedang berada di puncak.

Ia tetap menjadi sahabat ketika masa tugas telah usai.

Ia tetap menjaga silaturahmi ketika jabatan telah berganti.

Ia tetap menghormati perjalanan bersama ketika waktu terus membawa kehidupan ke babak berikutnya.

Komjen Pol (Purn.) I Ketut Suardana dan Irjen Pol Jawari adalah gambaran bahwa perjalanan panjang pengabdian dapat melahirkan persaudaraan yang tidak mudah dipisahkan oleh waktu.

Seragam boleh dilepas. 
Jabatan boleh berakhir. 
Pangkat boleh berubah.

Namun persahabatan sejati akan tetap mengalir, seperti mata air yang tidak pernah kehilangan sumbernya.

Mata air itu adalah ketulusan.
Sumbernya adalah kepercayaan. 
Dan alirannya adalah persaudaraan. 
Untuk Bhayangkara. 
Untuk negeri. 
Untuk pengabdian. 
Dan untuk persahabatan yang melampaui masa.

Rahayu Ibukota.
Rahayu Nusantara.
Rahayu Dunia!

*Penulis adalah Pemerhati Seni dan Budaya


Discover more from BliBrayaNews

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from BliBrayaNews

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading