InternasionalPeristiwa

Tiga Siswa MAN IC Sumedang Raih Medali Perunggu Internasional Lewat Inovasi Penyimpanan Dingin Tenaga Surya

Jakarta – Tiga siswa Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Sumedang kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Melalui inovasi penyimpanan dingin bertenaga surya bernama SMART CHILL, mereka berhasil meraih Bronze Medal pada ajang 5th International Youth Summit (IYS) 2026 yang berlangsung di Malaysia pada 30-31 Mei 2026.

Ketiga siswa tersebut adalah Zahwa Tsabita Karima, Naura Mayla Hana Hakima, dan Naufal Dzaki Hibatullah. Mereka mengangkat karya ilmiah berjudul Smart Chill (Smart Solar Storage): An Integrated Solar-Powered Cold Storage Innovation for Reducing Post-Harvest Losses in Tropical Food Systems yang menawarkan solusi terhadap tingginya angka kerusakan hasil panen sebelum sampai ke tangan konsumen.

Kepala MAN IC Sumedang, Hilal Najmi, menjelaskan bahwa SMART CHILL merupakan konsep penyimpanan dingin yang memanfaatkan energi matahari untuk menjaga kualitas hasil pertanian dalam jangka waktu lebih lama.

“SMART CHILL merupakan konsep penyimpanan dingin yang memanfaatkan energi surya untuk menjaga kesegaran hasil pertanian lebih lama. Sistem ini menggabungkan panel surya, baterai penyimpanan energi, material penyimpan suhu dingin, serta pemantauan berbasis Internet of Things (IoT), sehingga dapat digunakan di wilayah pedesaan yang akses listriknya masih terbatas,” ujar Hilal, Selasa (2/6).

Menurutnya, inovasi tersebut dirancang untuk membantu petani mengurangi kerugian akibat kerusakan pascapanen melalui sistem penyimpanan yang mampu menjaga suhu sesuai kebutuhan komoditas pertanian.

Selain berpotensi meningkatkan kualitas dan umur simpan hasil panen, teknologi tersebut juga dinilai dapat meningkatkan pendapatan petani, mengurangi emisi karbon, serta mendukung ketahanan pangan di kawasan tropis.

“Inovasi tersebut memungkinkan hasil panen dapat disimpan pada suhu yang sesuai sehingga risiko kerusakan setelah panen dapat ditekan. Selain membantu petani mengurangi kerugian, konsep ini juga berpotensi meningkatkan pendapatan petani, mengurangi emisi karbon, dan mendukung ketahanan pangan di daerah tropis,” jelasnya.

Hilal turut menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih para siswanya. Menurutnya, keberhasilan tersebut bukan hanya tentang raihan medali, tetapi juga keberanian generasi muda untuk menawarkan solusi nyata bagi persoalan global.

“Kami bersyukur atas capaian ini. Yang paling membanggakan bukan hanya medali yang diraih, tetapi keberanian siswa untuk bersaing dengan mahasiswa dari berbagai negara melalui gagasan yang menawarkan solusi nyata bagi persoalan pertanian,” katanya.

Bersaing dengan Mahasiswa dari Berbagai Negara

Perjalanan menuju podium internasional tidaklah mudah. Pada subtema Agriculture, SMART CHILL harus bersaing dengan puluhan karya inovatif dari berbagai negara.

Tim MAN IC Sumedang berhasil menembus jajaran 12 finalis terbaik yang diundang untuk mempresentasikan karya mereka secara langsung di Malaysia.

Persaingan semakin menantang karena mayoritas peserta berasal dari kalangan mahasiswa program sarjana (S1) hingga magister (S2), sementara Zahwa, Naura, dan Naufal masih berstatus siswa kelas X.

Di hadapan dewan juri internasional, mereka mempresentasikan konsep SMART CHILL melalui sesi poster exhibition dan tanya jawab yang menguji aspek teknis, manfaat, serta potensi implementasi inovasi tersebut dalam dunia pertanian.

Zahwa Tsabita Karima mengaku sempat merasa gugup ketika mengetahui para pesaing yang dihadapi sebagian besar merupakan mahasiswa. Namun pengalaman tersebut justru menjadi motivasi untuk terus berkembang.

“Awalnya kami merasa gugup karena mengetahui sebagian besar peserta adalah mahasiswa. Namun setelah berdiskusi dan bertemu langsung dengan peserta dari berbagai negara, kami menyadari bahwa usia bukanlah penghalang untuk berkontribusi melalui ide dan inovasi. Pengalaman ini membuat saya lebih percaya diri untuk terus belajar dan bermimpi lebih besar,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Naura Mayla Hana Hakima. Ia menilai kompetisi internasional tersebut mengajarkannya bahwa sebuah inovasi tidak hanya harus baik secara konsep, tetapi juga mampu dikomunikasikan dengan efektif kepada publik.

“Kami belajar bahwa memiliki ide yang baik saja tidak cukup. Kami juga harus mampu menjelaskan mengapa ide tersebut penting, bagaimana cara kerjanya, dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat. Kompetisi ini mengajarkan saya untuk berpikir lebih kritis dan lebih terbuka terhadap berbagai perspektif,” kata Naura.

Sementara itu, Naufal Dzaki Hibatullah mengaku terinspirasi oleh berbagai inovasi yang dipresentasikan peserta lain selama kompetisi berlangsung.

“Saya melihat banyak ide luar biasa yang berfokus pada penyelesaian masalah nyata. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa inovasi bukan hanya tentang teknologi canggih, tetapi tentang bagaimana kita dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Bronze Medal ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan SMART CHILL dan menciptakan inovasi yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Prestasi yang diraih ketiga siswa MAN IC Sumedang tersebut menjadi bukti bahwa generasi muda Indonesia memiliki kemampuan untuk bersaing di tingkat global melalui kreativitas, riset, dan inovasi yang memberikan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Keberhasilan ini sekaligus menunjukkan bahwa madrasah mampu menjadi ruang lahirnya inovator muda yang berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan dan masa depan ketahanan pangan Indonesia. (Red/Gate 13/Foto: Ist./Kemenag)


Discover more from BliBrayaNews

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from BliBrayaNews

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading