Darmasaba Village Festival III Padukan Seni, UMKM, dan Kepedulian Lingkungan
Badung – Darmasaba Village Festival III (DAVEST III) kembali digelar di Lapangan Umum Desa Darmasaba, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, pada 14–16 Agustus 2026. Festival yang digelar setiap dua tahun ini menghadirkan perpaduan seni, budaya, kompetisi, UMKM, pelayanan masyarakat, hingga konser musik.
Mengusung tema “Mula Wreddhi, Nawa Lestari”, DAVEST III tidak hanya dirancang sebagai ruang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi wadah untuk menggali potensi Desa Darmasaba sekaligus menjaga warisan lokal melalui inovasi yang berkelanjutan.
Perbekel Desa Darmasaba Ida Bagus Surya Prabhawa Manuaba mengatakan tema tersebut menjadi pijakan untuk menggali berbagai potensi desa dan mengembangkannya menjadi program yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Prinsipnya kita menggali potensi kemudian melanjutkan warisan itu dengan program-program inovasi yang berkelanjutan,” kata Surya, Jumat (14/8/2026).
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, DAVEST III memberikan perhatian lebih besar terhadap isu lingkungan. Kreativitas para sekaa teruna diarahkan untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga, merawat, dan menyayangi lingkungan.
“Perbedaan dari tahun-tahun sebelumnya adalah konsep kita sekarang lebih kepada ramah lingkungan. Kreativitas sekaa teruna nanti akan menampilkan pesan-pesan pentingnya menjaga, merawat, dan menyayangi lingkungan kita,” ujarnya.
Surya mengatakan persoalan lingkungan saat ini membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, edukasi lingkungan mulai diintegrasikan ke berbagai kegiatan desa, termasuk melalui penyelenggaraan festival.
“Permasalahan lingkungan saat ini kita hadapi luar biasa. Kita harus bersiap dengan segala konsekuensinya, sehingga kita harus mulai dengan edukasi dari semua event yang ada di desa,” jelasnya.
Selain memperkuat konsep ramah lingkungan, penyelenggaraan DAVEST III juga merupakan hasil evaluasi dari pelaksanaan festival sebelumnya. Penataan lokasi, konsep UMKM, hingga berbagai kegiatan yang menjadi ciri khas DAVEST terus dikembangkan.
Program seperti cerdas cermat, lomba seni dan modern, serta berbagai pertunjukan tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas festival.
32 UMKM Lokal Terlibat
Pemberdayaan ekonomi masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama DAVEST III. Sebanyak 32 UMKM lokal, yang mewakili setiap banjar, dilibatkan dalam festival. Masing-masing banjar memperoleh kuota dua UMKM yang dipilih melalui proses pengundian.
Produk yang ditampilkan meliputi kuliner, fashion, craft, hingga berbagai produk unggulan masyarakat Darmasaba.
Keterlibatan UMKM tidak hanya terlihat dari produk yang dijajakan di stan. Sejumlah kebutuhan teknis festival seperti sound system, panggung, rigging, dekorasi, dan kebutuhan lainnya juga semakin banyak dikerjakan oleh pelaku usaha dan warga lokal.
“Di Davest III ini semakin banyak UMKM lokal yang menguasai DAVEST. Baik sound system, panggung, rigging, dekorasi dan lain sebagainya sudah didominasi oleh warga kita di Darmasaba,” ungkap Surya.
Festival ini juga menghadirkan sejumlah layanan tambahan bagi masyarakat. Pengunjung dapat menikmati stan barber, mengakses edukasi pengelolaan sampah dari TPS3R Pudak Mesari Darmasaba, hingga memperoleh pelayanan administrasi kependudukan dan surat-menyurat.
Kantor Desa Darmasaba bahkan dipindahkan sementara ke lokasi festival untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sementara layanan kesehatan tersedia melalui Safari Kesehatan dari Badung Peduli.
“Yang menjadi perbedaan dari UMKM ini selain menunya produk unggulan Darmasaba, juga dilayani dengan fasilitas lainnya,” katanya.
Ruang Kreativitas Generasi Muda
DAVEST III juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam penyelenggaraan kegiatan desa. Konsep hingga pengajuan proposal kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) disiapkan oleh Karang Taruna Desa Darmasaba.
Pemerintah desa mengambil peran sebagai pendukung dengan menyediakan sarana dan anggaran, sementara tanggung jawab pelaksanaan kegiatan diberikan kepada generasi muda yang telah menyusun konsep festival.
“Di Desa Darmasaba kita selalu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak muda. Dari konsep hingga pengajuan proposal ke APBDes itu disiapkan oleh Karang Taruna Desa Darmasaba. Mereka sudah mengonsepkan dan merancang semua kegiatannya,” ujar Surya.
“Kami di pemerintah desa sifatnya support. Kami menyiapkan sarananya, anggarannya, tetapi kita minta mereka bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan,” imbuhnya.
Menurut Surya, DAVEST bukan sekadar ruang hiburan bagi generasi muda. Festival tersebut dirancang sebagai pesta rakyat yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga kelompok lanjut usia.
Lebih jauh, festival ini diharapkan menjadi momentum untuk menggali kembali berbagai potensi seni, budaya, kreativitas, dan ekonomi yang dimiliki Desa Darmasaba. Potensi yang selama ini dianggap biasa oleh masyarakat dapat dikemas menjadi sesuatu yang memiliki nilai lebih dan menjadi identitas desa.
“Kadang kita menganggap sesuatu itu biasa, tapi orang lain menganggap istimewa. Padahal kalau kita kemas dengan baik itu akan menjadi spesial. Nah, ini yang ingin kita lakukan,” tutup Surya.
Melalui DAVEST III, Desa Darmasaba tidak hanya menghadirkan hiburan selama tiga hari, tetapi juga menunjukkan bagaimana seni, budaya, lingkungan, pemberdayaan UMKM, dan kreativitas generasi muda dapat dipadukan menjadi kekuatan pembangunan desa. (Red/Gate 13/Foto: Ist.)
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

