Simulasi Tsunami di Tanjung Benoa, Libatkan Ratusan Warga dan Sekolah Tingkatkan Kesiapsiagaan
Badung – Dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) Tahun 2026, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kelurahan Tanjung Benoa menggelar simulasi dan latihan kesiapsiagaan bencana pada Senin (27/4/2026).
Kegiatan ini difokuskan untuk meningkatkan kesadaran serta kesiapan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana, khususnya gempa bumi dan tsunami.
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Tanjung Benoa, Dr. I Wayan Deddy Sumantra, menjelaskan bahwa simulasi melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelajar hingga aparatur kelurahan.
“Dalam kegiatan ini kami melaksanakan drill tsunami yang melibatkan seluruh sekolah di Tanjung Benoa, mulai dari TK Jaladi Kumara, SD Negeri (SDN) 1 dan 2 Tanjung Benoa, hingga SMP Negeri (SMPN) 3 Kuta Selatan. Selain itu, simulasi juga dilaksanakan di Kantor Lurah bersama staf dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM),” ujarnya.
Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah instansi, di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Badung, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balai Wilayah III, serta BMKG Stasiun Geofisika Denpasar. Sebanyak 500 peserta terlibat dalam pelaksanaan simulasi yang digelar secara swadaya dan mandiri.
Deddy menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HKBN yang diperingati setiap tanggal 26 April. Namun, karena bertepatan dengan hari libur, pelaksanaan simulasi dilakukan pada hari berikutnya.
Dalam simulasi kali ini juga dilakukan penyesuaian titik evakuasi, khususnya bagi siswa TK Jaladi Kumara. Jika sebelumnya diarahkan ke Hotel Novotel sebagai lokasi evakuasi sementara, kini dialihkan ke Kantor Lurah Tanjung Benoa yang baru.
“Berkat dukungan Bupati Badung, kantor lurah yang baru kini lebih representatif dan layak dijadikan tempat evakuasi sementara. Lokasinya juga lebih dekat sehingga mempermudah proses penyelamatan,” jelasnya.
Selain simulasi, rangkaian HKBN juga akan diisi dengan kegiatan bimbingan teknis bagi pelaku pariwisata, khususnya pemandu wisata di kawasan Tanjung Benoa. Kegiatan ini menyasar sektor watersport dan konservasi penyu guna meningkatkan pemahaman mitigasi bencana bagi wisatawan.
“Kami ingin memastikan wisatawan merasa aman dengan adanya edukasi singkat terkait langkah penyelamatan saat terjadi gempa maupun potensi tsunami,” tambah Deddy.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Tanjung Benoa telah menyandang status “Tsunami Ready” dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) selama empat tahun terakhir. Saat ini, pihaknya tengah mempersiapkan proses pembaruan pengakuan tersebut untuk periode selanjutnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix yang melibatkan unsur pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media dalam membangun ketangguhan wilayah terhadap bencana.
“Sinergi lima pilar ini menjadi kunci dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana di Tanjung Benoa,” tegasnya.
Sebagai kawasan yang berada di wilayah rawan bencana dan berhadapan langsung dengan zona megathrust, Tanjung Benoa memiliki potensi gempa hingga 8,5 magnitudo yang berisiko memicu tsunami setinggi 10 hingga 12 meter.
Oleh karena itu, berbagai langkah mitigasi terus dilakukan, termasuk menjalin kerja sama dengan hotel, gedung bertingkat, serta fasilitas umum yang memenuhi standar sebagai lokasi evakuasi sementara.
Deddy berharap, pembangunan shelter tsunami yang lahannya telah dihibahkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dapat segera direalisasikan.
“Kehadiran shelter ini akan menjadi langkah penting dalam meminimalkan risiko korban jiwa apabila bencana terjadi,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, masyarakat Tanjung Benoa diharapkan semakin tangguh dan siap menghadapi potensi bencana, sekaligus memperkuat citra kawasan sebagai destinasi wisata yang aman dan berdaya saing. (Gate 13/Foto: Ist./Humas)
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

