Sosok

IN MEMORIAM GURUH SOEKARNOPUTRA: Penjaga Imajinasi Kebudayaan Indonesia

Oleh Kolier L. Haryanto

Pada Sabtu, 26 September 2026, Indonesia kehilangan seorang penjaga kebudayaan. Kepulangan Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra di usia 73 tahun menutup satu halaman penting dari generasi yang memahami bahwa kebudayaan bukan sekadar ornamen negara, melainkan struktur perasaan (structure of feeling, Raymond Williams) yang memungkinkan sebuah bangsa menemukan jati dirinya. Guruh meninggalkan bukan hanya karya, tetapi sebuah epistemologi tersendiri untuk membaca Indonesia.

Lahir pada 1953, Guruh secara sadar menolak menjadi sekadar replika Soekarno. Jika Bung Karno membangun komunitas terbayang (imagined community, Benedict Anderson) melalui retorika politik dan gagasan makro, Guruh merajutnya melalui musik, koreografi, busana, dan estetika pertunjukan. Menghadapi gempuran modernitas dan industri budaya Barat, responsnya bukanlah penolakan atau isolasi, melainkan sintesis yang brilian. Melalui kolaborasi Guruh Gipsy dan pendirian Swara Mahardhika (1977), ia mempertemukan gamelan Bali dengan musik kontemporer. Ia membuktikan bahwa identitas kebudayaan, sebagaimana dikonseptualisasikan Stuart Hall, bukanlah artefak museum yang statis, melainkan dialog dinamis dan hidup antara tradisi dengan zamannya.

Meski pernah menapaki dunia politik, monumen sejati Guruh terletak pada ruang kebudayaan yang jauh lebih abadi daripada siklus jabatan legislatif. Di tengah era yang kerap terobsesi pada metrik kuantitatif—pertumbuhan ekonomi, indeks daya saing, dan infrastruktur fisik—Guruh mengingatkan bahwa bangsa juga hidup dari ingatan kolektif. Sebagaimana ditegaskan Nurcholish Madjid, kemajuan autentik memerlukan akar kultural yang kuat dan humanis. Negara tanpa kebudayaan mudah merosot menjadi birokrasi yang kering; politik tanpa kebudayaan kehilangan manusia yang hendak dilayaninya. Guruh bekerja di ruang paling mendasar ini: memelihara ingatan Indonesia melalui kreativitas yang transformatif.

Mengenang Guruh melampaui pengulangan daftar karya; ia mengajak kita merefleksikan tesis hidupnya. Bahwa Indonesia bisa modern tanpa mencabut akar. Bahwa seni adalah cermin jiwa bangsa, bukan sekadar komoditas hiburan. Ia memilih panggung ketika garis keturunan menawarkan jalan pintas menuju kekuasaan, membuktikan bahwa mencintai Indonesia bisa berupa devosi estetis yang damai dan mendalam.

Warisan terbesarnya adalah sebuah pertanyaan reflektif yang menggema: Apakah Indonesia masih memiliki keberanian menjadi dirinya sendiri di tengah dunia yang kian seragam? Pertanyaan ini tidak mati bersamanya, melainkan baru menemukan momentumnya.

Selamat jalan, Mas Guruh. Semoga kebudayaan yang kau bela dengan tekun menemukan generasi baru yang bersedia meneruskan percakapan agung ini.

*Penulis adalah Pendiri Peace Cafe.


Discover more from BliBrayaNews

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from BliBrayaNews

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading