BulelengWisata

Gubernur Koster Tegaskan Busana Adat Bali Perkuat Jati Diri

Buleleng – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pentingnya penggunaan Busana Adat Bali sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas, karakter, dan jati diri masyarakat Bali.

Penegasan tersebut disampaikan Koster melalui Pakel­ing Gubernur Bali bertepatan dengan Rahina Purnama Kapat, Sabtu (26/9/2026), saat berlangsungnya Karya Ngenteg Linggih di Pura Puncak Duwur Sari, Desa Adat Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

Koster mengatakan, kebijakan penggunaan Busana Adat Bali telah berjalan selama sembilan tahun dan diberlakukan melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 79 Tahun 2018.

Pergub tersebut mulai berlaku pada 26 September 2018 dan diluncurkan pada 11 Oktober 2018. Dalam ketentuannya, penggunaan Busana Adat Bali diberlakukan setiap Kamis, Purnama, Tilem, serta Hari Jadi Provinsi Bali pada 14 Agustus.

Kebijakan tersebut dilandasi pertimbangan bahwa Busana Adat Bali merupakan bagian dari kekayaan budaya nasional yang perlu dilestarikan dalam rangka pembinaan dan pengembangan budaya nasional.

Menurut Koster, kebijakan tersebut memiliki sejumlah tujuan, antara lain menjaga kelestarian Busana Adat Bali untuk meneguhkan jati diri dan karakter masyarakat. Selain itu, penggunaannya diarahkan untuk menyelaraskan fungsi Busana Adat Bali dengan arah pemajuan kebudayaan Bali dan Indonesia.

Penggunaan Busana Adat Bali juga menjadi sarana untuk mengenali nilai estetika, etika, moral, dan spiritual yang terkandung dalam budaya Bali. Pada saat yang sama, kebijakan tersebut diharapkan mendorong peningkatan pemanfaatan produk serta industri busana lokal Bali.

Ketentuan penggunaan Busana Adat Bali berlaku di lingkungan lembaga pemerintahan maupun lembaga swasta. Masyarakat adat Nusantara lainnya yang tinggal di Bali juga dapat menggunakan Busana Adat Bali atau busana adat daerah masing-masing.

Koster menyebut masyarakat Bali memberikan respons positif terhadap kebijakan tersebut. Hal itu terlihat dari penggunaan Busana Adat Bali di berbagai lingkungan, mulai dari pegawai pemerintah, hotel, restoran, bank, mal, siswa, generasi muda, hingga berbagai komponen masyarakat.

Antusiasme tersebut juga terlihat dari semakin seringnya Busana Adat Bali digunakan di luar hari yang telah ditentukan, termasuk dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari.

Menurut Koster, penggunaan Busana Adat Bali merupakan bagian dari strategi memperkuat identitas, karakter, jati diri, dan rasa cinta masyarakat terhadap Bali.

Penggunaan busana adat tersebut diharapkan menjadi bagian dari kebanggaan masyarakat dalam menampilkan diri sebagai “Nak Bali yang berbudaya”.

Koster juga menyoroti dampak kebijakan tersebut terhadap perkembangan industri busana adat Bali. Menurutnya, penggunaan Busana Adat Bali turut memberikan dampak positif terhadap para penenun dan penjahit.

Perkembangan desain busana adat Bali, baik untuk kegiatan adat maupun perkantoran, semakin terbuka dan turut mendorong peningkatan produksi. Dampaknya juga dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), butik, serta mata rantai usaha lainnya.

Perkembangan tersebut dinilai turut memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Bali.

Koster menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kebijakan penggunaan Busana Adat Bali, termasuk pemerintah kabupaten/kota, instansi vertikal, lembaga pendidikan, hotel, restoran, mal, pelaku usaha, serta seluruh komponen masyarakat Bali.

Ia juga menyampaikan terima kasih atas kepatuhan masyarakat dalam menggunakan Busana Adat Bali sesuai Pergub Bali Nomor 79 Tahun 2018.

Berkenaan dengan sembilan tahun berjalannya kebijakan tersebut, Koster mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kepatuhan, terutama bagi pihak yang belum menggunakan Busana Adat Bali.

Menurutnya, kepatuhan tersebut perlu dijalankan dengan kesadaran dan tanggung jawab sebagai bagian dari upaya memuliakan Bali, melestarikan budaya, serta menjaga masa depan Bali bagi generasi penerus.

“Kalau bukan Kita Masyarakat Bali, siapa lagi yang harus bertanggungjawab atas keberlanjutan masa depan Bali. Busana Adat Bali adalah Kita, Nak Bali,” tegas Koster. (Red/Gate 13/Foto: Ist.)


Discover more from BliBrayaNews

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Leave a Reply

Discover more from BliBrayaNews

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading