Densus 88 AT Polri Kolaborasi Gelar Budaya Tradisional di Bangka, Perkuat Benteng Sosial Tangkal Radikalisme
Bangka – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Kepulauan Bangka Belitung dari Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88 AT) Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) berkolaborasi dengan komunitas budaya Generasi Emas Indonesia (GESID) menggelar pagelaran budaya tradisional dalam rangka menangkal penyebaran ideologi radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).
Kegiatan tersebut berlangsung dalam balutan acara adat “Tintang Tue dan Doa Sekampong” di Desa Bintet, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Minggu (19/4).
Pendekatan ini merupakan bagian dari strategi soft approach atau pendekatan lunak yang menitikberatkan pada penguatan nilai budaya dan kearifan lokal sebagai benteng sosial masyarakat.
Pagelaran budaya ini dihadiri berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga warga setempat.
Turut hadir Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Pemilihan (Dapil) Bangka Belitung, Zuhri Muhammad Syazali, perwakilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka, Ketua Umum GESID Bangka Belitung Suwardian Ramadhan, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Belinyu AKP Singgih Aditya Utama, serta budayawan Bangka Belitung Dato’ Akhmad Elvian.
Rangkaian acara menampilkan beragam kesenian khas daerah, seperti Tari Dambus Selamat Datang, Tari Dambus Kedidi, pencak silat tradisional, Tari Samber Kelayang Putih, pembacaan Titang Tue, Saji Buk Idang dari lima dusun, hingga doa bersama melalui prosesi Ketupat Lepas. Kegiatan ditutup dengan Tari Bedincak yang melibatkan partisipasi masyarakat.
Tradisi Tintang Tue dan Doa Sekampong sendiri merupakan ritual adat masyarakat yang menandai peralihan musim dari barat ke timur.
Selain sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi dan laut, tradisi ini juga menjadi sarana memohon keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat.
Ketua Tim (Katim) Pencegahan Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung Densus 88 AT Polri, Ipda Hariyadi, menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan sosial masyarakat dari pengaruh paham radikal.
“Melalui kegiatan budaya seperti ini, masyarakat diharapkan memiliki benteng sosial yang kuat untuk menangkal radikalisme dan terorisme. Selain itu, nilai kebersamaan, toleransi, dan kecintaan terhadap tradisi juga semakin tumbuh,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan berbasis budaya dinilai efektif karena mampu menyentuh langsung kehidupan sosial masyarakat sekaligus memperkuat identitas kebangsaan.
Kegiatan berlangsung aman dan tertib serta mendapat antusiasme tinggi dari warga Desa Bintet. Kolaborasi antara aparat, komunitas budaya, dan pemerintah daerah ini diharapkan terus berlanjut sebagai upaya pencegahan radikalisme melalui pendekatan yang humanis, inklusif, dan berakar pada kearifan lokal. (Red/gate 13/Foto: Ist./DivHumas)
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

