Koster Tancap Gas Benahi Besakih, Tegaskan Bukan Objek Wisata, Melainkan Pusat Spiritual Bali
Karangasem – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmen kuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali dalam menata kawasan Pura Agung Besakih secara menyeluruh.
Penataan ini tidak semata pembangunan fisik, tetapi bagian dari menjaga kesucian pusat spiritual umat Hindu sekaligus simbol martabat Bali lintas generasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Koster dalam podcast yang digelar di kawasan Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Kamis (23/4). Ia menekankan pentingnya perubahan cara pandang masyarakat terhadap Besakih.
“Besakih ini bukan kawasan pariwisata biasa. Ini kawasan suci untuk menghaturkan terima kasih dan memohon berkah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Mindset ini harus diubah,” tegasnya.
Penataan Tahap I Ubah Wajah Besakih
Koster mengungkapkan, penataan tahap pertama telah rampung, meliputi penataan parkir, kebersihan, ketertiban, serta pengaturan perilaku masyarakat. Hasilnya, kawasan Besakih kini jauh lebih tertib dan nyaman bagi pemedek (umat yang datang sembahyang).
Perubahan signifikan terlihat dari meningkatnya kesadaran masyarakat, termasuk dalam pengelolaan sampah dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.
“Dulu semrawut dan kotor. Sekarang masyarakat sudah terbiasa disiplin, membungkus sampah dan membuangnya pada tempatnya. Ini perubahan besar,” ujarnya.
Ia bahkan mengaku memantau langsung kondisi kawasan melalui sistem CCTV yang terhubung hingga rumah jabatan gubernur. Dari pemantauan tersebut, terlihat pola disiplin baru mulai terbentuk di tengah masyarakat.
Koster meminta pengelolaan kawasan dilakukan secara profesional layaknya pusat modern, namun tetap berlandaskan nilai spiritual dan pelayanan suci (ngayah).
“Saya minta dikelola seperti mal, bersih, rapi, disiplin. Tapi ini bukan komersial, melainkan untuk menjaga kesucian,” katanya.
Tahap II: Restorasi Total Pelinggih
Memasuki tahap kedua, Pemprov Bali akan fokus pada penataan kawasan Parahyangan (area utama tempat suci), termasuk restorasi 26 pelinggih yang saat ini banyak mengalami kerusakan.
Koster menilai kondisi pelinggih yang lapuk dan berjamur tidak pantas bagi pura terbesar umat Hindu di Bali.
“Ini tempat memohon kerahayuan. Masa pelinggihnya rusak? Bahkan ada stana Ida Bhatara yang tidak layak,” ujarnya.
Sebanyak tujuh pelinggih telah direstorasi, sementara 23 lainnya akan dikerjakan tahun ini dengan total anggaran mencapai Rp203 miliar melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Groundbreaking dijadwalkan pada 1 Mei saat Purnama dan ditargetkan rampung Desember 2026.
Seluruh proses restorasi wajib mengikuti pakem (aturan tradisional) warisan leluhur, termasuk penggunaan material berkualitas dan keseragaman arsitektur.
“Tidak boleh lagi berdasarkan selera pribadi. Tempat suci harus harmonis,” tegasnya.
Tahap III: Infrastruktur Akses Bebas Macet
Pada tahap ketiga, pemerintah akan membenahi infrastruktur jalan menuju Besakih dari berbagai arah, termasuk jalur dari Buleleng, Kintamani, Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, Klungkung, hingga Karangasem.
Tujuannya agar umat dapat beribadah dengan tenang tanpa terhambat kemacetan.
“Jangan sampai orang mau sembahyang malah emosi di jalan. Harus tenang dari rumah sampai Besakih,” ujarnya.
Program ini direncanakan mulai 2027 dengan skema pembiayaan kolaboratif dari pemerintah kabupaten/kota yang memiliki kapasitas fiskal kuat.
Pengelolaan Mandiri dan Transparan
Koster juga mengapresiasi kinerja Badan Pengelola Kawasan Besakih yang kini mampu mandiri secara finansial. Saat ini, operasional sebesar Rp3,2 miliar telah dibiayai dari hasil pengelolaan kawasan, tanpa bergantung pada APBD.
“Ini kemajuan besar. Tapi saya ingatkan, jangan ada penyimpangan. Harus bersih dan tulus,” tegasnya.
Menurut Koster, penataan Besakih merupakan bagian dari visi pembangunan Bali berbasis kearifan lokal, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menekankan keseimbangan alam, manusia, dan spiritualitas.
Ia menegaskan, keberhasilan penataan Besakih akan menjadi model untuk pura-pura besar lainnya di Bali, termasuk Pura Ulun Danu Batur.
“Kalau Besakih berhasil, kita lanjutkan ke pura lainnya. Karena menjaga pura berarti menjaga peradaban Bali,” pungkasnya. (Gate 13/Foto: Ist.)
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

