Dharma Santi Nyepi 1948 di Denpasar, Koster Dampingi Menko PMK Perkuat Harmoni dan Persatuan
Denpasar – Gubernur Bali Wayan Koster mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno dalam perayaan Dharma Santi Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang digelar di Panggung Terbuka Ardha Candra, kawasan Taman Budaya Art Center, Jumat (17/4).
Kegiatan yang dihadiri sekitar 5.500 umat Hindu ini menjadi puncak rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi sekaligus momentum mempererat persaudaraan, memperkuat toleransi, serta menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat Bali.
Acara diisi dengan dharma wacana atau siraman rohani, pertunjukan seni budaya, hingga hiburan musik yang memperkuat suasana spiritual dan kebersamaan.
Selain terpusat di Bali, Dharma Santi juga digelar serentak di sejumlah daerah seperti Sulawesi Selatan, Papua Selatan, dan Sumatera Selatan sebagai wujud perayaan nasional umat Hindu.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Menteri (Wamen) Pariwisata Ni Luh Puspa, Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Isyana Bagoes Oka, Ketua Umum (Ketum) Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Wisnu Bawa Tenaya, anggota DPR RI dan DPD RI daerah pemilihan Bali, serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Bali.
Dalam sambutan virtual, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu sekaligus menegaskan bahwa Dharma Santi merupakan momentum penting untuk memperkuat nilai persaudaraan, toleransi, dan persatuan bangsa.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Republik Indonesia, saya mengucapkan selamat merayakan Dharma Santi Tahun Baru Saka 1948 kepada seluruh umat Hindu di tanah air,” ujarnya.
Presiden juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hidup dan keharmonisan dalam keberagaman sebagai kekuatan utama bangsa. Ia mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan semangat gotong royong dan nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita adalah bangsa besar yang rukun dalam perbedaan. Berbeda tetapi tetap satu,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mendorong umat Hindu untuk mengamalkan ajaran Tri Hita Karana sebagai landasan menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Sementara itu, Menko PMK Pratikno menyoroti tantangan kehidupan modern yang dipenuhi arus informasi cepat, terutama dari media digital. Menurutnya, kondisi tersebut sering membuat masyarakat kehilangan ruang untuk hening dan refleksi diri.
“Kadang kemarahan lebih cepat daripada kebijaksanaan, ketersinggungan lebih cepat daripada pengertian,” ujarnya.
Pratikno menilai nilai-nilai Nyepi seperti amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak bekerja), dan amati lelungan (tidak bepergian) tetap relevan untuk membentuk pribadi yang lebih tenang dan bijaksana.
Ia juga mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan di tengah meningkatnya risiko bencana alam.
Di sisi lain, Wamen Kebudayaan Giring Ganesha menegaskan bahwa Dharma Santi bukan sekadar seremoni, melainkan momen kembali pada keheningan diri. Ia mengaitkannya dengan ajaran karma yoga dalam kitab suci Hindu, yaitu bertindak tanpa keterikatan pada hasil.
Perayaan ini sekaligus menutup rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dengan mengusung semangat Vasudhaiva Kutumbakam, satu bumi satu keluarga yang diharapkan mampu memperkuat kerukunan antarumat beragama serta kesadaran kolektif menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Usai acara, suasana hangat terlihat di pelataran Taman Budaya Art Center. Gubernur Wayan Koster menjadi pusat perhatian masyarakat yang antusias berfoto bersama. Dengan ramah, ia melayani permintaan swafoto dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh adat hingga generasi muda. (Gate 13/Foto: Ist./Diskominfo)
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

