Digitalisasi Pembelajaran di Wilayah 3T Dongkrak Nilai Siswa, Guru Makin Antusias Mengajar
Jakarta – Transformasi digital dalam dunia pendidikan mulai menunjukkan dampak nyata, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Penerapan sarana prasarana (sarpras) berbasis teknologi di sekolah terbukti mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus hasil akademik siswa.
Seorang tenaga pendidik di Nusa Tenggara Timur (NTT), Theobaldus, mengungkapkan bahwa proses pembelajaran yang didukung teknologi berdampak langsung pada peningkatan nilai siswa.
Jika sebelumnya rata-rata nilai ujian mingguan berada di kisaran 60, kini meningkat menjadi 75 hingga 80.
“Peningkatan ini terjadi karena siswa lebih mudah memahami materi pembelajaran,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan kualitas sarpras pembelajaran digital selaras dengan karakter siswa di wilayah 3T.
Meski mayoritas berasal dari keluarga petani jagung, padi, dan kopra, para siswa saat ini sudah cukup akrab dengan penggunaan ponsel pintar.
Digitalisasi pembelajaran juga membuat suasana kelas menjadi lebih interaktif. Siswa tidak lagi mudah mengantuk dan lebih tertarik mengikuti pelajaran.
Guru pun dapat memanfaatkan berbagai platform digital untuk mendukung proses belajar, termasuk mengakses konten edukatif melalui YouTube sebagai media ice breaking.
“Sekarang lebih mudah. Kalau butuh ice breaking, tinggal akses YouTube dan langsung praktik bersama. Dulu harus unduh materi dulu, baru dilakukan secara manual,” jelasnya.
Ia menambahkan, kehadiran papan digital di kelas turut membantu guru dalam menjelaskan materi secara visual dan interaktif. Hal ini membuat proses belajar tidak lagi terbatas pada teori di atas kertas.
“Kami sangat bangga dengan dukungan pemerintah. Murid tidak mengantuk lagi di kelas, dan kami guru juga lebih antusias karena bisa langsung memperlihatkan materi secara visual,” tambahnya.
Selain itu, Theobaldus juga mengikuti pelatihan Training of Trainers (ToT) terkait penggunaan aplikasi desain presentasi Canva. Ia optimistis keterampilan tersebut dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas penyampaian materi kepada siswa.
Namun demikian, keterbatasan fasilitas masih menjadi tantangan. Saat ini, satu perangkat papan interaktif digital (PID) yang didukung super aplikasi Rumah Pendidikan dan akses internet Starlink masih digunakan secara bergantian, rata-rata satu kelas per minggu.
“Tentu kami berharap sarana prasarana di sekolah wilayah 3T dapat terus ditambah agar pemanfaatannya lebih optimal,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin) Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha, menilai praktik baik di NTT menjadi bukti nyata transformasi paradigma pendidikan dari konsep schooling menuju learning.
“Pembelajaran tidak lagi terbatas di ruang kelas. Dengan pendekatan learning, proses belajar dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja,” jelasnya.
Ia menambahkan, perubahan pola pikir tersebut perlu diikuti dengan kolaborasi berkelanjutan antar pemangku kepentingan.
Saat ini, terdapat hampir 3.000 pengembang teknologi pembelajaran yang tersebar di berbagai kementerian dan lembaga di Indonesia.
Menurutnya, ekosistem ini harus saling terhubung dan memperkuat satu sama lain guna mendorong kemajuan pendidikan nasional yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Dengan dukungan teknologi dan kolaborasi yang berkelanjutan, digitalisasi pendidikan diharapkan mampu memperkecil kesenjangan kualitas pembelajaran, khususnya di wilayah 3T, serta menciptakan generasi yang lebih kompeten dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Gate 13/Foto: Ist./)
Discover more from BliBrayaNews
Subscribe to get the latest posts sent to your email.

